Di tanahku, aku tak dianggap apa-apa. Di parlemen, aku hanya disebut-sebut saja. Di kabinet, aku cuma jadi obrolan saja. Di Partai Politik, aku cuma jadi obralan saja. Di Istana, aku tak mengenal istana. Karena itu, aku nge-Blog saja.

10 Alasan kenapa GOLPUT


Walaupun ada igauan fatwa Golput itu haram, tapi Rakiyat masih memegang tradisi dari pemilu ke pemilu. Sejak peserta pemilu cuma 3 partai pemerintah, hingga kini ada puluhan partai, Rakiyat selalu menggunakan haknya sebagai : GOLPUT. Kenapa? Kira-kira, kalau mau dicari-cari ada 10 alasan yang rakiyat buat-buat. Walau sebenarnya sih, simpel saja alasan utamanya, yaitu : Nggak Percaya! Tapi karena pemerintah kita selalu menuntut alasan, terpaksalah Rakiyat bikin alasan…

1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Rakiyat gampang dibohongi, sekali dikasih pengobatan gratis, makanan gratis, doorprize, langsung pada ngumpul, eh nggak taunya isinya kampanye
3. Politisi endonesya banyak yang bego. Belum waktunya kampanye sudah pasang bendera, sudah pasang tampang sok suci, sok wibawa, dan menampakannya di area publik yang sangat merusak pemandangan mata rakiyat yang sederhana.
4. Rakiyat lebih suka memilih seleb ketimbang politisi, seperti Indonesia Idol, karena rakiyat nggak merasa dibohongi. Lagian yang dipilih bisa langsung dilihat kualitasnya.
5. Rakiyat masih gampang diadudomba. Misalnya devide et impera, devide et pemilu, et reformasi, et partai, et pilkada
6. Rakiyat mudah lupa diri. Buktinya saja, rakiyat yang kini jadi anggota legislatif, sudah tak merasa jadi rakiyat lagi. Mereka itu keenakan menggenduti lambungnya dengan fasilitas uenaaak dan gaji buanyuaaak… sampai nggak sadar kalau menindas rakiyat lainnya
7. Rakiyat bingung, dulu, waktu 3 partai saja, satupun nggak ada yang benar-benar membela rakiyat. Terus waktu pemilu pasca reformasi, tak satupun dari puluhan partai yang benar-benar mengobati luka hati rakiyat. Kini, partainya makin banyak… bagi rakiyat, makin banyak saja yang berebutan dana kampanye doang, tidak untuk membela rakiyat.
8. Agama rakiyat sering dijadikan alat untuk menipu. Bilang ini haram itu haram, padahal hanya untuk kepentingan pemilu saja. Agama rakiyat itu agama Tuhan, jadi rakiyat merasa Tuhan rakyat disaingi kedaulatannya.
9. Sudah sekian kali petinggi negeri ini berpesta demokrasi, tak pernah berani memenjarakan koruptor.
10. Rakiyat sadar, wajar saja koruptor tak mungkin tertangkap, karena yang memimpin rakiyat adalah koruptor. Rakiyatpun dididik untuk menjadi koruptor…

Begitulah 10 Alasan yang rakiyat buat-buat…

Jadi CALEG


Ini obrolan rakiyat dengan teman yang bercita-cita jadi anggota legislatif. Kurangkum obrolan itu seingatku.

“Saya tak percaya kalau nanti dia terpilih jadi aleg, akan tetap konsisten terhadap perjuangan membela rakyat kecil!” ia mengomentari salah seorang yang dikenalnya, yang bertengger dalam daftar calon anggota legislatif pemilu 2009.

“Dia kan ustadz, menurutku dia akan tetap konsisten.” Tanggapku

“ah, banyak yang sebelumnya benar, ketika jadi aleg malah terjerumus dalam lingkaran setan!” keluhnya.

“berarti tetap masih ada sedikit yang lurus, kan?”

“Kalau yang lurus sedikit, justru akan kalah dengan mayoritas bengkok!”

“Kamu kenapa tidak jadi caleg? Setahuku kamu aktif banget di DPD Partaimu…”

“Saya bukan orang pribumi. Jadi agak sulit bersaing dengan mereka yang pribumi.” Ia memang pendatang di kota ini karena pekerjaanya menuntutnya hinggap di Jakarta.

“Kenapa kamu tak kembali ke daerah asalmu? Di sana kamu bisa aktif di DPD Partaimu. Dengan geliatmu yang tak mengenal waktu, saya rasa lima tahun ke depan, kamu bisa jadi caleg di sana!”

“Iya, ya. Kenapa tak terpikir olehku sebelumnya. Kalau aku kembali ke kampung, aku bisa meniti karir politikku di sana. Dan cita-citaku untuk menjadi anggota legislatif bisa tercapai.” Ia baru sadar.

“Ya sudah, mudik saja!”

“Baiklah, aku akan mempersiapkan rencana itu. Insya Allah dengan cara begitu aku bisa mengubah nasibku ini. Capek jadi orang miskin!”

Begitulah obrolan dengan temanku. Ia juga mau jadi anggota legislatif agar kehidupannya bisa berubah menjadi lebih baik. Sudah terbayang di kepalanya berbagai fasilitas dan gaji yang aduhai kalau sudah menjadi anggota legislatif. Ya, begitulah caleg (calo gebleg) kita.

Jakarta, 29 Sept 2008

Aku Rakyat, Pemegang Kekuasaan Tertinggi


Penyair Langit, menitipkan puisinya di blog MT. Ini dia :

Rakyat ingin bertanya!
siapa yang meracuni anak-anak kecil?
siapa yang menakut-nakuti pemuda-pemuda kita?
siapa yang membuat mereka memberhalakan kenikmatan?
siapa yang membuat mereka ketergantungan narkoba?
siapa yang membuat mereka bisa membeli hukum?
siapa yang membuat mereka lebih suka tanyangan sinetron dari pada acara kenegaraan?
siapa yg membuat orang tua jadi ingin cepat mati?
siapa yang buat para wanita kita jadi tidak tahu malu?
siapa yang biarkan bisnis malam dan pelacuran?
siapa yang buat mafia berjaya dan koruptor masih berkeliaran?
siapa yang buat istri bekerja di pabrik sedangkan suaminya mencuci piring di rumah?
siapa? siapa?
siapa yang biarkan anak-anak kecil mengemis dijalan-jalan,
hingga nyawa mereka bagi telur di ujung tanduk?
siapa yang bilang kita sudah merdeka….?!
siapa, yang bilang, kita, sudah, MERDEKA?
siapa,siapa?
siapa yang katakan saat ini lebih baik dari masa perang kemerdekaan?
ketika dulu pahlawan angkat bambu runcing…. mereka tahu mana lawan dan mana kawan
ketika mereka hidup dengan semangat juang…..
mereka katakan “merdeka atau mati”
mereka lantunkan sajak perlawanan “dari pada hidup berselimut bangkai lebih baik mati berkalang tanah”
“rawe-rawe rantas malang-malang putung”
tapi sekarang…….
siapa yang buat kita jadi hanya berpikir soal perut saja..
mau perang, perang lawan siapa
mau marah marah pada siapa
semakin hari, kian semakin kacau
apa yang salah
siapa yang salah
tak ada yang mau menjawab!
semua diam
semua bersembunyi
semua mundur teratur
lalu bagaiman kalau AKU ganti pertanyaannya!
siapa yang ingin jadi pemimpin negeri ini???

(c) Penyair Langit

RUU menjadi UU


Kini RUU Pornografi telah sah menjadi UU. Semoga saja yang berwenang sebagai penjaga UU itu paham akan interpretasi UU tersebut. Semoga saja rakyat endonesya juga bisa kembali tenang, setelah pro dan kontra berakhir. Kalah dan menang itu biasa. Rakyat dikalahkan, itu sudah biasa juga.

SMS RUU & Perempuan Telanjang


Minggu pagi, sedang asyik tidur karena semalam begadang, Rakiyat dibangunkan oleh dering hape lagu dangdutnya Mansyur S., ada SMS masuk. Rakiyat buka mata, biar bisa buka SMS tersebut :

ass. wr. w. tolong dikerahkn, klmpk2 masy n or orang, tmask ANDA sndiri utk ngirim surat ke pansus ruu pornografi, d.a. DPR-RI Senayan JKT utk dukung ruu pornografi. krn teman2 di DPR trsudut oleh banyaknya surat2 yg tolak ruu tsb. fax pansus RUU pornografi 021-5715512. Tlg disbrluaskn sgr! [pengirim : 0812721xxxxx]

Rakiyat puyeng, tak mengerti apa pentingnya Rakiyat mengirim fax ke Pansus dimaksud. Rakiyat juga bingung mau nge-fax apa ke Pansus. Untuk menyebarluaskan sms, sayang pulsa. Rakiyat juga heran, katanya teman-teman di DPR tersudut oleh penolakan. Rakiyat tak merasa punya teman di DPR. Selama ini Rakiyat menganggap mereka hanyalah calo saja. Maaf buat orang-orang DPR, kalau Rakiyat masih belum punya kepercayaan terhadap kalian semua. Sikap ini merupakan ekses dari prilaku kalian yang selalu menjual nama Rakyat, sedangkan sepeserpun Rakiyat tak pernah dapat uang lisensi, apalagi komisi.

Bukannya Rakiyat berpihak pada mereka yang anti terhadap RUU Pornografi itu. Tapi ini merupakan sikap Rakiyat sendiri. Urusan pornografi menurut Rakiyat, asal setiap orang mau menggunakan otak dan hatinya, nggak bakalan deh melanggar kelaziman moral. Memang dalam hidup bernegara, perlu yang namanya Oendang-Oendang. Tapi saat ini, yang Rakiyat tahu, buat bikin RUU, perlu biaya gede, buat mengisi perut dan nafsu mereka yang terlibat. Hayoo! siapa yang tahu, berapa amplop rapat, amplop meeting, amplop pengesahan, dll…. berapa biaya transportasi, akomodasi, basi…!

Terlepas dari Pro dan Kontra, heh… apa tuh?? (*ada ribut2 di depan rumah rakiyat*)…

Oh hohoho… para tetangga Rakiyat sedang membujug seorang gila yang nongkrong di depan rumahnya. Orang gila itu perempuan, dan yang bikin ramai tetangga adalah : PEREMPUAN ITU TELANJANG! Mungkin ada baiknya Rakiyat memberikan daster istri Rakiyat, agar bu RT mau mengenakannya kepada Perempuan Bugil itu. Sambil mencari daster, pikiran Rakiyat melesat, “Untung UU Pornografi belum disahkan. Kalau sudah, bisa jadi perempuan itu kena hukuman hehehe…”

Sebelum Menjadi Presiden


Saat beberapa orang tak punya pemimpin, Nabi pernah mengilustrasikan sebagai domba yang tercerai dari komunitasnya dan dalam ancaman terkaman srigala. ilustrasi tersebut mengisyaratkan betapa pentingnya kepemimpinan bagi sebuah komunitas, kawanan, kelompok, komplotan, apalagi sebuah bangsa. dengan adanya pemimpin, berarti orang-orang yang dipimpin akan mendapatkan panduan dan perlindungan.

Tapi memilih pemimpin itu ternyata bukan urusan gampang. Apalagi jika pemimpin itu harus bisa memandu dan melindungi rakyatnya. sebagai pemandu, pemimpin adalah sosok yang layak diteladani. cara hidup dan sikap hidupnya merupakan panduan bagi pengikutnya. dalam konteks agama, hal tersebut dapat dilihat pada aspek ritual. pada konteks lainnya, misalnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bilakah pemimpin atau presiden menjadi panutan atau panduan.

Sebagai pemandu, pemimpin adalah orang yang mengajak pengikutnya menuju pada satu tujuan. terserah apakah tujuan itu baik atau buruk, benar atau tidak, yang namanya pemimpin, harus mempunyai visi yang menuju visi tersebutlah rakyat dipandu dan diarahkan.

Ketika kita memilih seorang presiden, maka kita harus konsekuen untuk mengikuti panduannya menuju visi yang sudah dikampanyekan sebelumnya. begitu juga presiden, harus konsekwen dalam membawa rakyatnya menuju visi tersebut. jika rakyat tidak konsekuen dalam mengikuti panduan presiden, bisa saja rakyat tersebut dijuluki mbalelo, oposan, bahkan subversif dan pantas dihukum. Tapi bagaimana jika presiden sendiri yang tidak konsekwen dengan janjinya saat kampanye? belum pernah ada konsekuensinya selama ini.

begitulah negeri ini apa adanya, presiden adalah pemandu atau teladan. Jika pemimpinnya korup, maka infrastruktur hingga yang paling rendahpun juga berusaha meneladaninya sebagai koruptor. Jika pemimpinnya senang mencela orang-orang yang berbeda paham, begitu pula dengan bawahannya, bahkan rakyatnya yang senang menjela perbedaan. Jika pemimpinnya gede ambek dan pemarah, wajar saja kalau aparat keamanannya gampang dikompori, represif, dan menteror, menculik, asal tembak, asal gebug. Jika pemimpinnya plin-plan, jangan heran kalau aparat hukumnya bisa ditawar dengan kekayaan ataupun ketakutan.

Menjadi pemimpin berarti juga menjadi pelindung. pemimpin harus melindungi rakyatnya dari ancaman terkaman srigala. Begitu banyak srigala dalam fenomena kehidupan negeri ini.

Presiden harus mampu melindungi rakyat dari srigala ekonomi, yang merampas sumber kekayaan bangsa untuk kepentingan pribadi dan kroninya. Presiden harus melindungi rakyat dari srigala konglomerat yang memonopoli sektor ekonomi sehingga rakyat tidak kebagian lahan usaha. Presiden harus melindungi rakyatnya dari srigala besi yang semaunya bertindak represif terhadap rakyat yang berani bicara jujur tentang kesalahan birokrasi. Dari srigala budaya, yang memformat kebudayaan bangsa menjadi kebudayaan asing yang bebas nilai moral dan agama. Dari srigala hukum, yang menjerumuskan rakyat pada ketidaklogisan hukum dalam memutuskan perkara. Dari srigala politik yang memecah-belah kebersamaan menjadi pertikaian SARA. Dari srigala teroris, yang menciptakan ancaman ledakan kepala manusia di tengah keramaian. Dari segala srigala yang membuat rakyat tak aman, tak tentram, tak damai, tak kenyang, dan tak dipedulikan.

Kita menyadari bahwa srigala-srigala tersebut sudah terlalu lama mencengkeram bangsa ini. Sejak orde lama, orde baru, orde reformasi, orde rekonsisi, hingga detik ini, pemimpin bangsa, mulai dari presiden hingga ketua RT masih belum bisa menjadi panutan apalagi melindungi rakyat. Hanya orang-orang kaya dan berkuasa yang mendapatkan panduan dan perlindungan untuk terus memperkaya diri sementara rakyat makin melarat, nyanyian malam makin menyayat.

Ini renungan untuk siapa saja yang mau menjadi pemimpin di Indonesia. mulai dari RT hingga Presiden. Beranikah anda membuat kontrak politik dengan rakyat, jika kalian tak mampu menjadi pemandu dan pelindung? Jika anda tidak berani, jangan maju jadi calon pemimpin, terutama menjadi presiden rimba Indonesia. Sebab anda hanya akan menjadi raja srigala baru saja!!

Catatan Dari Kereta Rakyat Jelata


terlalu banyak orang yang janjikan keadilan
entah berapa orang yang janjikan kesejahteraan
masih ada saja yang janjikan tegaknya hukum
sambil terkekeh di belakang meja

sebab bangsa ini mudah sekali dibohongi
aparat hukumnya mudah dibekali
pengusahanya tak pernah benar-benar peduli
aparat keamanannya bisa dibeli
politisinya hobi main koalisi
yang penting kebagian kursi

catatan ini kutulis di kereta jurusan kota
kereta listrik untuk rakyat jelata
berdesak-desakan mencari kedudukan
mereka yang tak dapat tempat duduk
tetap masih punya pendirian
sementara para pedagang bersliweran

keringat mengucur dari dahi
sebab kipas anginnya setengah mati
bau ketiak bercampur dengan daki
selalu mengiringi perjalanan ini

elite politik mana mau tahu urusan begini
mereka tak pernah menyentuh kehidupan di sini
terlalu sibuk dengan proyek busuk
selalu ngantuk di ruang sejuk

mereka tak pernah paham kehidupan yang sebenarnya
tak pernah mengerti makna perjuangan seadanya
perjuangan rakyat tuk tunaikan tuntutan hidupnya

keretaku berhenti di stasiun sebelum kota
aku turun karena tak kuat menahan muntah
kulanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki
menelusuri gang sempit komplek kurcaci
rumah yang dibangun dari sampah industri
dekil dan kotor menyatu menjadi harmoni
namun kedekilan dan kekotoran itu merasuk ke hati

aku selalu bertanya
sudikah penguasa mampir ke sini?
tahankah mereka hidup seperti ini?

KRL Kampung Bandan, 27 Mei 2004

Lelaki di Bundaran HI


Di Bundaran Hotel Indonesia ada seorang laki-laki berpakaian compang-camping duduk di tepi kolam. Bajunya berwarna putih dekil (apakah dekil termasuk dalam kategori warna?). Celana cutbrainya robek-robek mulai dari dengkul ke bawah. Rambut laki-laki itu panjang dan awut-awutan. Ada debu, pasir, daun-daun kering yang nyangsang di rambutnya itu. Ada gelang di tangan kanannya. Gelang hitam terbuat dari aspal. Kata orang itu namanya gelang bahar. Pada lehernya tergantung sebuah kalung dengan liontin potongan karton bekas bungkus mie instan yang terdapat tulisan dari spidol hitam. Tulisan itu terbaca, “Orang Gila!!!”.

Entah siapa yang mengalungkan karton itu di lehernya. Aku yakin bukan kemauan dia mengalungkan benda yang membuatnya diperhatikan orang itu. Mungkin ada orang yang iseng mengenakan kalung itu padanya. Mungkin dengan tulisan di kalung itu, orang yang mengalungkannya ingin memberitahu pada dunia kalau laki-laki itu gila. Mungkin ia berniat agar orang-orang yang melintasi Bundaran HI hati-hati terhadap laki-laki itu. Apakah laki-laki yang dilabeli orang gila itu harus ditakuti?

Aku masih mendengarkan radio pocket dengan earphone di telingaku. Kebetulan stasiun radio yang aku dengarkan itu juga mengabarkan tentang keberadaan laki-laki di tepi kolam Bundaran HI itu. Informasi itu diberikan oleh salah seorang pengendara mobil yang juga pendengar setia stasiun radio tersebut. Memang stasiun radio sekarang sangat terbuka terhadap informasi yang bersumber dari pendengarnya sendiri. Seperti siang ini, ada informasi dari pendengar yang memberitahukan kepada khalayak radio kalau ada orang gila di tepi kolam Bundaran HI. Pembawa informasi itu mengingatkan agar para pendengar waspada karena bisa saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tambahnya, tidak ada Petugas yang mengamankan laki-laki itu. Ini bisa berbahaya!, kata pembawa informasi tersebut.

Aku matikan radio pocketku, menggulung kabel earphone dan menyimpannya di tas pinggangku. Aku menunggu lampu merah menyala agar bisa menyebrang menemui laki-laki yang disebut orang gila itu. Di tepi kolam Bundaran HI aku dekati dia yang sekarang sedang terpaku menatap Patung Selamat Datang. Aku sapa laki-laki itu dengan seutas senyum. Pandangannya beralih kepadaku dengan tatapan mata yang sepertinya menembus jasadku. Aku tanya padanya sedang apa di sini. Iapun tertawa sendiri, aku tidak tertawa karena tak diajak tertawa. Aku hanya tersenyum saja. Ia kembali memperhatikan Patung Selamat Datang di atas sana. Lalu kembali tertawa. Tangannya melambai-lambai seperti orang meremehkan orang lain. Sambil terkekeh ia bilang padaku kalau laki-bini di atas sana goblog. Ia bilang lagi kalau dari tadi ia memanggil laki-bini itu, dan ia bersembunyi di bawah mereka, dan laki-bini itu menganggap dia ada di tempat lain dan melambai-lambaikan tangannya ke arah lain. Tawanya semakin terbahak-bahak. Ia bilang kalau dia bisa mengelabui laki-bini itu yang tidak bisa melihat dirinya. Ia juga bilang kalau dia punya ilmu tembus pandang. Katanya dengan ilmu itu orang-orang tidak bisa melihat dia, maka iapun bebas melakukan apa saja semaunya. Lalu ia memaksaku menjawab pertanyaannya, “Kamu nggak ngeliat aku, kan!?” berulang-ulang ia mohon jawaban. Aku mengangguk-angguk saja. Ia balas aku dengan makian, “Bodoh! Kalau kamu nggak liat aku, mukamu jangan dihadapkan ke aku, dasar bodoh! Mestinya kamu melihat ke arah selain aku!”. Aku merasa terkecoh dengan sikapnya beberapa menit ini. Patung itu dia anggap bodoh karena tak melihatnya sedangkan aku dianggap bodoh karena memandangnya. Ia menembangkan sebuah nyanyian dengan bahasa daerah yang tak perlu aku sebutkan di sini, sebab khawatir menimbulkan SARA. Kembali matanya bolak-balik menatap patung dan mataku, “Kamu anaknya laki-bini itu?” tangannya menunjuk patung di atas sana. Aku jawab bukan. Tapi dia yakin kalau aku anak patung di atas sana. Ia beralasan kalu mukaku mirip dengan laki-laki di atas itu. Lalu ia berdiri tegak ke arah aku yang jongkok. Tangan kanannya ditempelkan ke dahi kanan, memberi hormat kepadaku. Ia bilang aku anak presiden. Sampai di sini aku tak kuat menahan tawa. Akupun tertawa cukup lama karena dia menganggapku anak presiden dan dia menganggap laki-bini di atas sana itu adalah presiden dan ibu negara.

Lelaki berpakaian compang-camping dengan bau tak sedap yang kurasakan setelah dekat dengannya menyampaikan orasi di depan hidungku. Ia menyatakan kalau aku lebih baik dari bapak-ibuku. Ia menghormatiku karena aku mau mendekati rakyat yang setia pada negara ini. Ia senang aku mau mendekatinya, menemaninya, mengetahui ilmu tembus pandangnya, dan mendengarkan isi hatinya. Ia juga bilang kalau bapak-ibuku, presiden dan ibu negara di atas sana itu, tak pernah tahu kalau rakyatnya memanggil walau dari bawah mereka, walau berdekatan dengan mereka. Tetapi walaupun sebenarnya ia tersinggung dengan sikap laki-bini di atas sana itu, ia menyatakan tetap menganggapnya sebagai pemimpin negeri ini, ia tetap akan membantu laki-bini itu memimpin negeri yang besar ini sampai titik darah penghabisan tanpa meminta imbalan sepeserpun. Karena baginya hidup adalah pengabdian pada Tuhan dan pada pemimpin. Ia menasehatiku kalau bapak-ibuku di atas sana itu adalah orang-orang pilihan Tuhan yang harus dicintai walau tidak pernah mendekati rakyatnya. Sebab kalau tidak dicintai, Tuhan akan mengazab rakyat negeri ini.

Aku tanya padanya, siapa yang mengalungkan karton ini di lehernya. Ia kembali berjongkok di depanku dan menyanggah kalau kalungnya bukan kalung biasa. Kalung itu adalah pemberian dari gurunya atas ujian akhir yang berhasil dia jalani. Gurunya memberinya penghargaan itu karena ia sudah bisa menerapkan ilmu hilang. Kini ia berencana akan menemui para anggota kabinet negeri ini. Ia bilang kalau orang yang telah lulus ilmu hilang, mempunyai tugas mulia dari gurunya untuk menasehati para pemimpin nusantara ini, untuk membisikkan nasehat kepada mereka semua yang bisa mereka rasakah melalui firasat, mimpi, atau bisikan hati. Setelah ini ia berencana akan mengunjungi anggota kabinet, anggota legislatif, penegak hukum, untuk membisikan nasehat agar mereka menjalankan tugas dengan ikhlas, tak mencicipi fasilitas negara untuk kepentingan lidahnya.

Aku berdiri dan menjabat tangannya sambil menyampaikan kata selamat jalan, selamat bertugas. Ia terharu sekali karena merasa telah mendapatkan keistimewaan bisa bertemu denganku, anak presiden yang peduli akan keberadaannya. Sebagai ucapan rasa haru, rasa bangga, dan rasa terima kasih, ia ingin sekali memberikan kenang-kenangan untukku, tapi ia tak punya harta kecuali kalung penghargaan itu. Aku bilang padanya agar tak perlu memberiku kenang-kenangan. Tapi ia tetap memaksaku dan mengalungkan tanda penghargaan itu di leherku sambil berucap, semoga dengan kenang-kenangan ini aku tetap mengingatnya sebagai rakyat yang setia. Lalu ia beranjak pergi dari tepi kolam Bundaran HI menelusuri jalan Jendral Sudirman untuk menyelesaikan misinya.

Pengakuan Seorang Bangsat


Bila tidak salah untuk menyatakan apa adanya tentang peristiwa yang terjadi, baiklah aku akan menyatakannya untukmu. Tapi tolong pengakuanku ini jangan dipublikasikan. Sebab aku tak mau orang-orang tahu tentang kesepakatan-kesepakatan yang telah aku buat dengan para sahabatku hingga aku tetap bebas melakukan kejahatan itu.

Pertama, tentang kematian direktur itu. Aku tidak pernah membunuhnya. Aku hanya sekedar menyatakan kepada sahabatku tentang kekecewaanku pada direktur itu. Aku kesal karena bisnis yang ia kembangkan sudah mengancam kelancaran bisnisku. Mereka telah merebut pasar yang telah aku bangun dalam sepuluh tahun ini. Aku takut perusahaanku bangkrut. Jadi aku bilang kepada sahabatku itu bahwa direktur itu telah mengancam masa depan bisnisku. Sahabatku bilang akan membereskan si direktur itu. Aku tak pernah mengira kalau “membereskan” itu berarti membunuhnya. Aku tak mengira kalau sahabatku itu membayar sniper untuk membereskan direktur naas itu. yach, mungkin memang sudah nasibnya mati di tangan sniper. Mungkin waktu masih muda dulu ia pernah menembak burung-burung di hutan terlarang. Dan kematiannya merupakan karma yang tak bisa dihindari.

Tentang bebasnya sniper dari pengadilan, itu merupakan kebenaran yang tak bisa dipungkiri lagi. Mungkin memang belum saatnya sniper itu dipenjara. Untuk hal itu, aku tak berbuat apa-apa. Aku hanya menyarankan kepada pengacaraku untuk membantu sniper itu. Dan kebetulan aku kenal dekat dengan hakim yang memimpin pengadilan tersebut. Hakim itu sudah aku anggap saudara sendiri. Aku memang senang memberikan fasilitas untuk ia dan keluarganya. Rumahku yang tidak terpakai di kompleks mewah itu memang tak pernah aku pakai. Jadi, daripada mubadzir, ada baiknya aku sumbangkan untuknya. Kebetulan ia juga anak yatim. Jadi aku pikir aku telah berbuat baik dengan memberikan rumah itu untuk seorang yatim yang memang tak mempunyai rumah yang layak untuk dihuni untuk keluarganya yang cukup besar. Rumah prumnas tipe 21 mana cukup untuk menampung satu istri dan tujuh orang anak. Jadi aku terpanggil untuk membantu agar kehidupannya menjadi layak saja. Aku tak pernah berharap hakim itu membalas segala pemberianku selama ini kepadanya. Mungkin ini merupakan buah dari keikhlasan yang telah aku berikan kepadanya. Aku pernah belajar agama, kalau kita ikhlas dalam memberi, maka Tuhan akan membalasnya suatu saat nanti dengan balasan yang berlipatganda. Aku menganggap bahwa keputusannya membebaskan sniper sahabatku itu merupakan balasan Tuhan atas keikhlasanku dalam menolong orang.

Kalau tentang hakim yang memimpin persidangan atas kasus korupsi, aku pikir tak ada bedanya dengan hakim di atas. Kebetulan saja hakim itu adalah anak angkatku. Semua biaya pendidikan dan biaya hidupnya di luar negeri dulu aku yang menanggung. Memang aku senang sekali menolong orang-orang yang kesusahan. Saat itu aku mengetahui bahwa hakim itu adalah anak muda yang bakal berprestasi. Sayang sekali kalau orang tuanya tak bisa membiayainya melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri. Jadi tak ada salahnya kan kalau aku menjadi bapak angkatnya.

Aku tak pernah minta agar ia membebaskan aku dalam persidangan kasus korupsi itu. Mungkin ia telah menganggap aku sebagai orang tuanya juga. Jadi menurut norma-norma yang ada, apakah pantas seorang anak menghukum orang tuanya sendiri? Lagi pula ini adalah masalah sepele. Uang yang ada dalam kas perusahaan itu memang dianggarkan untuk sumbangan. Jadi apa salahnya kalau aku merealisasikan anggaran tersebut kepada mereka yang berhak menerimanya. Mengenai uang itu, sepeserpun aku tak mendapatkannya. Karena aku sudah cukup kaya raya. Bahkan aku sendiri sering bingung untuk menggunakan uangku. Akhirnya setiap orang yang aku rasa perlu dibantu, ya aku bantu saja.

Mengenai perempuan itu? Kamu jangan salah paham. Dia itu bukan pekerja seks dan bukan perempuan simpananku. Pertama kali bertemu dengannya adalah di Hotel X-Citing. Aku melihatnya sedang duduk sendiri termenung. Rasa kemanusiaanku memanggil untuk menyapanya, mungkin ia butuh bantuan. Dan kamipun akhirnya duduk satu meja untuk berkenalan. Aku langsung akrab dengannya memang karena aku ini orangnya ramah, jadi siapa saja merasa aku bukan orang berpangkat yang harus dihormati. Mereka menganggap aku sahabat karena sikapku selalu menunjukkan persahabatan dengan siapa saja. Begitu pula dengan perempuan itu. Aku merasa terpanggil untuk menolongnya menyelesaikan masalah keuangan yang dialaminya. Sebagai mahluk Tuhan, kan kita diperintahkan untuk membantu dan membuat bahagia terhadap sesama. Jadi, setelah aku memberikan cek sekedarnya, aku menganggap ia butuh hiburan. Ia sedang kesepian karena pacarnya mati ditabrak metromini. Jadi aku mencoba menghiburnya. Karena pembicaraan ini sangat pribadi, maka aku mengajaknya untuk melanjutkan pembicaraan di kamar hotel itu. Kalian kan tahu, kalau berbicara di lobby itu terlalu riskan, apalagi untuk berbicara hal-hal yang sangat pribadi.

Di kamar niatnya aku hanya sekedar ngobrol lebih jauh tentang siapa dia dan dari mana asalnya, serta masalah apa saja yang dia alami. Ia pun bercerita banyak tentang hidupnya yang sangat merana. Ia adalah anak orang miskin yang tak pernah merasakan hidup senang. Saking dalamnya ia bercerita iapun meneteskan air mata. Melihat seorang perempuan menangis, siapa yang tak tahan untuk mengusapnya. Orang yang normal pasti ingin menghibur orang yang sedang sedih. Jadi hal itu aku lakukan. Hingga aku dan dia malam itupun menghabiskan waktu di kamar dengan niat untuk saling membahagiakan. Apa yang kami lakukan di kamar itu tak ada salahnya. Sebab niatku itu positif untuk membahagian orang lain. Perempuan itupun punya niat yang sama untuk membahagiakan aku dengan tubuhnya. Jadi segalanya kan tergantung dengan niat. Aku pernah baca hadis nabi bahwa segala sesuatu itu tergantung niatnya, jika niatnya baik maka kita akan mendapatkan kebaikan, tetapi jika niatnya buruk, maka buruk pula apa yang kita lakukan.

Kalau tentang penggusuran rakyat miskin itu, terus terang saja aku sebenarnya tidak tega melihatnya. Coba saja anda bayangkan! Mereka tinggal di tempat yang kumuh dan amat sangat tidak sehat. Bagaimana dengan anak-anak mereka yang masih kecil-kecil? Bagaimanapun anak-anak itu kan generasi bangsa yang akan mempimpin negeri ini di kemudian hari. Jadi aku pikir sangat tidak layak kalau anak-anak generasi bangsa itu tinggal di gubug-gubug penceng seperti itu.

Lagi pula dalam hubungannya dengan luar negeri, kan sangat memalukan jika di negeri yang kaya raya ini masih ada perkampungan kumuh seperti itu. Kalau perwakilan negara-negara sahabat ada yang melihat, muka kita mau ditaruh dimana? Inikan akan menjatuhkan martabat bangsa kita sendiri. Karena itu aku pikir mereka harus ditertibkan, bukan digusur. Memangnya mereka pasir! Mereka itukan manusia sama seperti kita, jadi kita tak boleh menggusurnya, maka dari itu aku menertibkan mereka agar tidak tinggal di tempat yang tidak layak itu. Toh mereka bisa tinggal di desa yang hijau dan subur. Dari pada mereka menjadi gembel di kota ini, kan lebih baik mereka jadi petani. Kalian harus ingat apa kata pepatah yang artinya kira-kira, “lebih baik hidup di negeri sendiri, dari pada di negeri orang”!

Mengenai pemilu aku tak tahu sama sekali. Aku sudah mendelegasikan urusan kampanye, strategi dan taktik politik kepada teman-temanku yang memang ahli di bidangnya. Kalian harus ingat, segala permasalahan akan beres dengan baik jika diserahkan kepada ahlinya. Betul begitu?! Jadi biarlah mereka yang mengatur urusan partaiku. Toh merekapun sudah paham betul apa maunya aku. Mereka tak akan tega untuk melupakan kemauan-kemauanku dalam partai ini. Jadi aku cukup tenang saja begini. Masih banyak urusan lain yang aku harus selesaikan. Masih banyak orang yang harus aku tolong. Jadi cukup sampai sini dulu pernyataanku. Yang mana daripada kalau kita punya kesempatan, pasti aku akan melanjutkan lagi. Toh, berbuat jujur seperti aku ini kan juga merupakan perbuatan yang terpuji. Betul begitu?!!

Politik Bopak


Aku bertemu di kolong jembatan layang, di antara lalulalang bis terminal Kampung Melayu.

“Sejak kapan kamu ngamen?” tanyaku sambil mengunyah singkong goreng dari bungkus kertas yang sudah berminyak di tangan kiriku. Sebelum menjawab pertanyaanku, ia menyedot minuman teh kemasan botol tapi bukan “teh botol”, “ude lama, om”. Entah berapa lama dia mengamen di bis kota dan terminal. Ketika kutanya sejak tahun berapa ia mengamen, ia menjawab “tau deh mulaen kapan?!”. Aku tanya lagi, “Sejak kelas berapa kamu mengamen, dan sekarang kelas berapa?”

Bocah ingusan yang bernama Bopak itu berkisah, kalau dia tak lagi sekolah sejak kelas 2 SD. Pensiun dini itu terjadi karena ibunya tak mampu lagi membiayai sekolah. Ibunya hanyalah PSK yang sekarang sudah beralih profesi menjadi tukang cuci pakaian tetangga. Bopak (Aku tidak percaya kalau namanya seperti itu, dia bilang itu panggilan Ibunya sendiri). Tak pernah kenal dengan bapaknya. Dia dilahirkan sudah dalam kondisi setengah yatim. Menurut Ibunya, Bapaknya masih hidup, tapi dia sendiri tak tahu pasti, siapa Bapak si Bopak itu karena konon, yang “menidurinya” banyak.

“Tadi kamu bilang, ngamen buat bayar sekolah?!” protesku kepada Bopak. Waktu dia ngamen di Bis Patas yang aku tumpangi, dia sempat ber-preambule kalau dia mengamen untuk membayar biaya sekolah. “Ah itukan cuma politik aja, Om. Kalo ga gitu mane dapet duit, kaga ada yang kesian sama saya!” itu jawaban Bopak.
“Politik gimana maksud kamu?” Aku geli mendengar alasan Bopak dengan istilah politik. Bopak bilang yang dimaksud politik adalah cara untuk menipu orang agar mau memberikan uang kepadanya. Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang rada botak, Bopak tersenyum dan menyatakan kalo orang-orang gede di negara endonesya ini jago politik. Aku konfirmasi, “Maksud kamu jago menipu?”. Bopak menyeka sekali lagi ingusnya dengan lengan kiri. Ingus itu masih meler lagi dari lubang hidungnya. Aku bilang, “Buang saja ingusnya, jangan diseka pake lengan. mending kamu semprotkan ke pojok sana.” Bopak tersenyum. Dia tak mau membuang ingusnya sampai habis. Menurutnya, ingus itu bagian dari politiknya agar orang-orang merasa kasihan padanya. Dengan begitu dia akan mendapatkan recehan. He he he… dasar, politik Bopak!

Kampung Melayu, April 2005